Sabtu, 30 April 2016
Rabu, 09 Maret 2016
GERHANA MATAHARI TOTAL DAN SEBAGIAN DI INDONESIA 1437 H / 2016 M
بسم الله الرحمن الرحيم
GERHANA MATAHARI TOTAL DAN SEBAGIAN DI INDONESIA
1437 H / 2016 M
Ditulis oleh: Manhajuddin Zuhudi
Alhamdulillaah wa Asy-Syukru Lillaah. Sebagai perwujudan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Rabb kita; Allah Ta'ala, kita tidak lupa untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya atas sangat banyaknya kenikmatan yang telah Allah anugerahkan kepada diri kita dan juga keluarga kita tentunya. Shalawat beserta salam tidak lupa juga kita haturkan kepada baginda besar, Nabi dan juga Rasul penutup akhir zaman ini; Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam yang telah sangat berjasa demi tegaknya agama tauhid ini, demi nikmatnya luasnya ajaran dan ilmu-ilmu Islam yang telah sampai pada masa kita sekarang ini. Pada kesempatan yang baik ini, saya tertarik untuk sedikit mengangkat tema bahasan artikel ini dengan tema "Gerhana Matahari Total dan Sebagian di Indonesia". Tema ini dirasa paling pas momentumnya untuk dibahas terlebih baru saja beberapa jam yang lalu kita telah bersama-sama merasakan indahnya fenomena tanda kebesaran-Nya yaitu terjadinya gerhana matahari.
Ya, tepatnya pada hari ini. Rabu, 29 Jumadil Ula 1437 H / 9 Maret 2016 M, Indonesia dilintasi oleh matahari yang mengalami gerhana. Berdasarkan informasi yang saya terima, ada sekitar 11 atau 12 kota di Indonesia yang mengalami Gerhana Matahari Total (GMT), sedangkan untuk wilayah kota-kota lainnya mengalami Gerhana Matahari Sebagian / Parsial (GMS). Gerhana matahari ini merupakan fenomena alam yang memang sangat jarang dan langka terjadi. Tepatnya, sekitar 33 tahun silam, pada tahun 1983 M Gerhana Matahari Total pernah melintasi langit Indonesia dengan lintasan-lintasan wilayah yang berbeda dengan tahun ini.
Fenomena gerhana matahari yang terjadi di Indonesia pada hari ini (Rabu, 29 Jumadil Ula 1437 H / 9 Maret 2016 M) menunjukkan satu tanda dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah sebagai Penciptanya. Mari kita buka Al-Qur'an kita surah Yunus, ayat 5 dan 6. Allah Ta'ala berfirman:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (5)
إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَّقُونَ (6)
سُوْرَة: يُوْنُسْ. الآيَة: 5-6
Ayat 5. "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."
Ayat 6. "Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang bertakwa."
Al-Qur'an Surah Yunus: 5-6.
Begitu juga dalil yang bersumber pada hadis Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam yang berbunyi:
قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: "( إِنَّ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ تُخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَ لاَ لِحَيَاتِهِ، وَ إِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوْا.)" رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang, atau kehidupannya (kelahirannya). Maka jika kalian melihat gerhana, shalatlah." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Demikianlah, Allah 'Azza wa Jalla telah menunjukkan kepada kita melalui firman-Nya yang termaktub dalam surah Yunus ayat 5-6 tersebut di atas. Allah telah menegaskan kepada kita bahwa matahari dan bulan, keduanya merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah 'Azza wa Jalla yang menghiasi bumi ini atas izin dan perintah-Nya. Bagitu juga yang disebutkan di dalam hadis di atas pun sama demikian. Hadis tersebut menjelaskan kepada kita akan perintah untuk melaksanakan Shalat, yaitu shalat gerhana apabila kita mengetahuinya. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam pun juga semasa hidupnya pernah mengalami peristiwa gerhana matahari, kemudian beliau pergi ke masjid dan segera melaksanakan perintah Allah yaitu Shalat Gerhana Matahari. Berikut saya ringkaskan sedikit tentang pembahasan Fiqih shalat gerhana:
√ Hukumnya: Sunnah Muakkadah (Sunnah yang Sangat Ditekankan)
√ Waktu Shalat: Sejak Gerhana Terjadi Hingga Hilang (Matahari atau Bulan Terlihat Lagi)
√ Jumlah Raka'at: 2
√ Tata Cara Shalat:
1. Berkumpul di Masjid (Tanpa Adzan dan Iqamah)
2. Shalat Dipimpin oleh Imam (Berjama'ah di Masjid)
3. Setiap Raka'at Terdapat 2x Ruku' dan 2x membaca Surah Al-Fatihah dan
Surah. Setelah itu baru sujud seperti shalat biasanya. (Begitu juga
pada raka'at kedua).
4. Disunnahkan memanjangkan bacaan (Surah) terutama pada raka'at pertama.
5. Boleh dilanjutkan dengan Khutbah setelah shalat selesai
dilaksanakan, sebagaimana yang pernah Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa
Sallam lakukan semasa hidupnya.
√ Amalan-amalan lainnya yang Disunnahkan saat terjadinya gerhana:
1. Memperbanyak dzikir kepada Allah Ta'ala
2. Melafalkan Takbir
3. Memperbanyak Istighfar
4. Memperbanyak Do'a
5. Bersedekah
6. Berbuat Baik, dan
7. Silaturrahim
~ Dalil terkait dengan gerhana:
قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: "( إِنَّ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ تُخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَ لاَ لِحَيَاتِهِ، وَ إِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوْا.)" رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang, atau kehidupannya (kelahirannya). Maka jika kalian melihat gerhana, shalatlah." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
~ Tambahan Istilah dan Kosa kata Arab dan Inggris:
1. Shalat Gerhana Matahari = Shalat Kusuf صَلاَةُ الْكُسُوْفِ.
2. Shalat Gerhana Bulan = Shalat Khusuf صَلاَةُ الْخُسُوْفِ.
3. Gerhana Matahari = Solar Eclipse كُسُوْفُ الشَّمْسِ.
4. Gerhana Bulan = Lunar Eclipse خُسُوْفُ الْقَمَرِ.
Demikianlah, agama Islam telah secara rapi dan terstruktur mengatur berbagai aspek kehidupan ini bagi kita. Maka, sudah menjadi tugas bagi kita sebagai hamba-Nya dan juga sebagai umat Nabi-Nya untuk senantiasa mentaatinya, mentadabburinya, juga mengamalkannya. Fenomena Gerhana Matahari yang terjadi di Indonesia juga bisa dibilang suatu bentuk keberkahan yang memiliki nilai estetika sarat makna dari Allah agar kita mau belajar, agar kita mau mengkaji, agar kita mau bertadabbur, agar kita semakin ingat tanda-tanda penciptaan dan kebesaran-Nya, dan juga agar kita menjadi hamba-hamba-Nya yang semakin dekat dan taat kepada Allah Ta'ala. Allaahumma Aamiin. Wallaahu A'lam bi al-Shawaab.
*Sumber Referensi Artikel:
√ Al-Qur'anul Karim
√ Buku "Ensiklopedi Muslim --Minhajul Muslim--" hlm. 368-369.
~ Tulisan yang saya kembangkan.
الحمد لله رب العالمين
~ Semoga Bermanfaat ~
Minggu, 07 Februari 2016
Amalan-amalan Sunnah di Hari Jum'at
بسم الله الرحمن الرحيم
AMALAN-AMALAN SUNNAH DI HARI JUM'AT
Assalamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.
Bagaimana kabar antum? Semoga tetap dalam kesehatan dan lindungan dan ridha Allah 'Azza wa Jalla. Aamiin. Pada kesempatan yang baik ini, saya mencoba mengumpulkan beberapa hal yang disunnahkan untuk dikerjakan dan terlebih untuk lebih meningkatkan saldo pahala kita khususnya pada hari Jum'at. Berikut amalan-amalan sunnahnya:
1. Memperbanyak dzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla
2. Memperbanyak membaca shalawat untuk Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alayhi wa Sallam
3. Memotong kuku
4. Mencukur kumis
5. Mandi Jum'at
6. Memakai pakaian putih terbaik untuk Shalat Jum'at
7. Memakai parfum atau wangi-wangian
8. Bersegera menuju Masjid untuk Shalat Jum'at dan datang lebih awal
9. Mendengarkan dan menyimak khotib yang sedang berkhutbah
10. Shalat sunnah semampunya
11. Berinfak atau bersedekah
12. Membaca Surah Al-Kahfi
13. Memanfaatkan Waktu Mustajab untuk berdo'a yaitu di penghujung waktu 'Ashar hari Jum'at (Menjelang Adzan Maghrib).
الحمد لله رب العالمين
~ Semoga Bermanfaat ~
Jumat, 01 Januari 2016
Renungan dan Muhasabah untuk Perbaikan Diri
بسم الله الرحمن الرحيم
RENUNGAN DAN MUHASABAH UNTUK PERBAIKAN DIRI
Ditulis oleh: Manhajuddin Zuhudi
Sahabatku, di mana pun berada. . .
Masih ingatkah bahwa kita telah memiliki tahun sendiri. Ya, tahun Hijriah (Sistem Kalender Islam) yang telah sejak ribuan tahun silam telah dijadikan rujukan penting bagi para sahabat Nabi Shallallaahu 'Alayhi wa Sallam dalam sejarah peradaban Islam sendiri.
Sahabatku, di mana pun berada. . .
Sungguh rasanya diri kita tidaklah pantas untuk turut serta merayakan peringatan tahun baru yang sebenarnya bukan bagian dari lingkup kalenderisasi agama kita; Islam. Tidaklah patut bagi kita berlaku mubazir harta dengan membeli kembang api, terompet, topi, dan barang-barang yang tidak seharusnya menjadi budaya konsumtif.
Sahabatku, di mana pun berada. . .
Sadarilah... akan sepenuhnya identitas diri kita sebagai muslim sejati. Tetaplah menjaga diri, menjaga hati, menjaga naluri, dan menjaga akhlak yang islami dambaan Nabi.
Sahabatku, di mana pun berada. . .
Sungguh tidak sepantasnya bagi kita bersenang-senang sesuka hati dan tidak terkendali di penghujung dan permulaan tahun masehi.
Sadarkah kita. . .
Saudara-saudara muslim kita, juga tetangga-tetangga kita di sana sini yang masih banyak berkekurangan, yang masih kesusahan untuk membeli beras, yang masih belum memiliki tempat tinggal, yang masih harus kerja keras di tengah sunyinya malam tatkala semua mata telah lelap terpejam.
Sadarkah kita. . .
Betapa banyaknya yang kini tengah terbaring sakit dan membutuhkan pengobatan dan kesembuhan.
Masih ingatkah kita. . .
Saudara-saudara muslim kita yang berada di Palestina dan Suriah yang hingga kini masih tertindas terdzolimi di tengah kepungan musuh-musuh Islam.
Pantaskah kita bereuforia?
Pantaskah kita menghambur-hamburkan harta?
Pantaskah kita berfoya-foya?
Semoga secarik tulisan singkat ini bisa menjadi pengingat yang baik juga sebagai bahan renungan, muhasabah (instrospeksi), dan perbaikan diri ini agar semakin menjadi hamba-Nya yang lebih diridhai. Allaahumma Aamiin.
~ Sekadar catatan kecil. *Ditulis oleh: Manhajuddin Zuhudi.
الحمد لله رب العالمين
~ Semoga Bermanfaat ~
Senin, 30 November 2015
Indahnya Persahabatan
بسم الله الرحمن الرحيم
Indahnya Persahabatan
Ditulis oleh: Manhajuddin Zuhudi
Alhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin. Segala puji syukur kita hanya kepada Allah 'Azza wa Jalla yang telah menciptakan kita dan memberi kita sangat banyak kenikmatan yang tak terhitung bilangannya. Shalawat beriring salam kita haturkan kepada baginda tercinta kita; Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam karena atas perjuangan beliaulah ajaran Islam dan risalah yang beliau bawa dapat sampai kepada generasi kita ini. Pada kesempatan yang baik ini, saya tertarik untuk membuat tulisan tentang persahabatan yang saya beri judul "Indahnya Persahabatan".
Manusia pada hakikatnya diciptakan oleh Allah 'Azza wa Jalla menjadi makhluk sosial yang berpasang-pasangan, saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya dalam kehidupan ini. Beberapa firman-Nya telah termaktub di dalam Al-Qur'an, di antaranya ialah:
*Al-Qur'an Surah An-Nisa': 1 (Terjemahannya)
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
*Al-Qur'an Surah Al-Hujurat: 10 (Terjemahannya)
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
Persahabatan itu merupakan suatu anugerah, fitrah, dan kenikmatan yang sangat indah dalam kehidupan ini. Bagaimana tidak, melalui persahabatan, akan terjalin suatu hubungan kekeluargaan di dalamnya. Melalui persahabatan, akan terjalin hubungan interaksi dan komunikasi yang dapat saling membutuhkan dan membantu satu salam lainnya. Melalui persahabatan, kita dapat saling berbagi cerita, saling menasihati dalam kebaikan, kita dapat saling mengukur diri ini sejauh mana pencapaian dan kekurangan yang ada pada diri kita, kita juga dapat saling berbagi ilmu, kita dapat saling belajar, kita dapat saling bercerita dan bercanda tawa; saling menghibur dalam kebaikan, kita dapat saling membantu bila ada dari teman kita yang membutuhkan bantuan kita, kita juga dapat saling memotivasi diri untuk bersama-sama menggapai puncak kesuksesan. Melalui persahabatan ini juga, kehidupan kita akan lebih terasa berwarna dan tidak monoton. Itulah mengapa persahabatan itu sangatlah penting dalam kehidupan ini dan yang juga tidak kalah pentingnya adalah usaha kita untuk selalu tetap menjalin komunikasi dan silaturahim kepada teman-teman kita di manapun mereka berada, berapapun jauhnya dari tempat tinggal kita, karena melalui tetap menjaga hubungan silaturahim-lah akan semakin tercipta rasa kasih sayang dan indahnya persahabatan kita.
الحمد لله رب العالمين
~Semoga Bermanfaat ~
Rabu, 14 Oktober 2015
SEMANGAT TAHUN BARU ISLAM
بسم الله الرحمن الرحيم
SEMANGAT TAHUN BARU ISLAM (HIJRIAH)
Ditulis oleh: Manhajuddin Zuhudi
Alhamdulillaah. kita bersyukur kepada Allah 'Azza wa Jalla Yang telah menciptakan kita, Yang telah memberi kita berbagai macam kenikmatan dalam hidup di dunia ini, baik yang terlihat oleh kedua mata kita maupun kenikmatan yang tidak terlihat oleh kedua mata kita namun tetap dapat kita rasakan keberadaan nikmat tersebut, juga atas nikmat kesehatan dan umur panjang yang senantiasa tetap melekat pada diri kita dan sangat banyak nikmat dari-Nya yang tak mungkin dapat kita hitung satu per satu jumlahnya. Shalawat beserta salam penulis haturkan kepada baginda tercinta Nabi mulia, Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam yang telah sangat berjasa di dalam mengemban amanah dakwah Islam di permukaan bumi ini dan karena beliau lah ajaran Islam dapat tetap tumbuh berkembang sehingga sampailah ajaran-ajarannya kepada generasi kita saat ini. Alhamdulillaah. Pada kesempatan yang baik ini, tepatnya di awal tahun baru Islam (Hijriah), 1 Muharram 1437 H yang baru saja menghampiri kita, penulis sangat termotivasi untuk membuat tulisan lagi yang Insya Allah dapat bermanfaat. Aamiin.
Tahun baru Islam dalam sistem kalender hijriah baru saja tiba menghampiri kehidupan kita. Tepatnya pada hari Rabu, 1 Muharram 1437 H / 14 Oktober 2015 M. Kita sebagai umat Islam sudah seharusnya lah kita berbangga akan identitas diri kita yang beragama Islam. Bagaimana tidak, Allah saja sudah menegaskan dalam firman-Nya dalam surah Ali 'Imran nomor ayat yang ke-19 yang berbunyi:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19)
Artinya: "Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab (yaitu Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur'an) kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya." QS. Ali Imran: 19
Demikianlah Allah 'Azza wa Jalla menegaskan di dalam firman-Nya yang termaktub di dalam Al-Qur'an bahwa agama satu-satunya yang diridhai dan ada di sisi Allah adalah hanya agama Islam. Maka dari itu, beruntung, bersyukur, dan berbanggalah kita sebagai orang Islam (Muslim).
Kehidupan di dunia ini terus berputar sesuai dengan ketentuan-Nya. Di antara ketentuan itu, dalam hal ini adalah pergantian tahun dalam kalender Islam (Hijriah) telah menjadi suatu kepastian akan eksistensinya dalam kehidupan setiap muslim di belahan bumi mana pun. Melalui kesempatan ini sebenarnya penulis sangat ingin mengajak saudara-saudara sekalian untuk juga bisa menjadikan penghitungan tanggal sesuai perputaran bulan pada porosnya berdasarkan Kalender Hijriah yang telah dimiliki Umat Islam sejak ribuan tahun silam untuk dijadikan patokan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu sangatlah perlu dikarenakan dalam penetapan awal tahun baru Islam (seperti pada saat sekarang ini), penetapan awal bulan Ramadhan, awal bulan Syawal untuk menentukan hari Raya Umat Islam; 'Idul Fitri, termasuk juga dalam penentuan awal bulan Dzulhijjah yang di dalamnya juga terdapat hari Raya Umat Islam yaitu 'Idul Adha, yang termasuk hari-hari besar Islam yang tidak akan pernah luput dari kehidupan kita sebagai muslim.
Maka dari itu, berangkat dari tulisan sederhana ini, penulis mengajak diri penulis pribadi dan juga keluarga penulis dan tentu juga mengajak saudara-saudara sesama muslim sekalian untuk ayolah memulai untuk menjadikan Kalender Islam (Hijriah) sebagai patokan dan tolok ukur kita dalam menjalani kehidupan kita sebagai Umat Islam sehingga kita semua Insya Allah bisa benar-benar bersatu dan mudah-mudahan tidak ada perpecahan di antara kita (Umat Islam) yang mungkin disebabkan oleh perbedaan kapan mulai dan kapan selesai berkaitan dengan bagian dari Hari-hari Besar Islam seperti yang telah terjadi pada waktu-waktu sebelumnya. Berdasarkan relevansi judul pembahasan tulisan ini, dan masih berkaitan dengan beberapa poin penting di atas yang menjadikan kalender Islam (Hijriah) sebagai rujukan, maka dalam memunculkan dan menghadirkan rasa semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik di segala hal dan aspek yang baik-baik untuk bisa lebih ditingkatkan lagi, memantapkan tekad untuk bisa 'Hijrah' menuju pribadi yang lebih dicintai dan diridhai Allah 'Azza wa Jalla, untuk bisa 'Hijrah' dengan cara meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dan hal-hal tidak baik yang pernah kita lakukan pada waktu sebelumnya, serta menjadi pribadi yang selalu meningkat iman dan takwanya kepada Allah itu dapat kita awali dari diri kita masing-masing dan tentunya berangkat dari menjadikan kalender Hijriah ini sebagai rujukan dalam kehidupan ini sebagai Muslim. Sehingga dengan demikian sangat diharapkan Semangat itu bisa muncul dan menggema hati, jiwa, dan pikiran kita mengawali dan membuka lembaran baru di Tahun Baru Islam ini. Wallaahu A'lam bi al-Showaab.
الحمد لله رب العالمين
~ Semoga Bermanfaat ~
Kamis, 17 September 2015
Kemuliaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
بسم الله الرحمن الرحيم
KEMULIAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH
Ditulis oleh: Manhajuddin Zuhudi
Alhamdulillaah. kita bersyukur kepada Allah 'Azza wa Jalla yang telah melimpahkan banyak karunia dan kenikmatan kepada kita selama ini. Shalawat serta salam marilah kita bersama-sama sanjungkan kepada baginda tercinta kita Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam yang telah sangat berjasa demi tegaknya agama Islam hingga pada zaman kita sekarang ini melalui ajaran-ajarannya yang masih tetap melekat pada kehidupan kita saat ini. Selanjutnya, pada kesempatan yang baik ini dan khususnya saat ini kita berada di dalam bulan yang baik dan istimewa, bulan haram (Ada 4 bulan haram (Istimewa) sebagaimana yang termaktub di dalam surah at-Taubah ayat ke-36 termasuk yaitu bulan Muharram, Rajab, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah) yang sangat dimuliakan oleh Allah 'Azza wa Jalla dan juga Rasul-Nya dan terkhusus pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Alhamdulillaah. Saya terinspirasi untuk membahas tulisan tentang keistimewaan dan kemuliaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.
Firman Allah 'Azza wa Jalla di dalam Surah Al-Fajr, ayat ke-2 yang berbunyi:
((2) وَ لَيَالٍ عَشْرٍ)
"Demi malam yang sepuluh."(Al-Qur'an Surah Al-Fajr: 2)
*Malam yang sepuluh di atas yang dimaksud adalah sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Ada pula yang mengatakan sepuluh malam pertama pada bulan Dzulhijjah, dan ada pula yang mengatakan sepuluh yang pertama dari bulan Muharram termasuk di dalamnya hari Asyura. Wallaahu A'lam bi al-Shawaab
Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadisnya yang berbunyi:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِيْ الْعَشْرُ الْأَوَّلُ مِنْ ذِيْ الْحِجَّةِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ لاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَ لاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَ مَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَالِكَ بِشَيْءٍ. متفق عليه
"Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah 'Azza wa Jalla daripada hari-hari ini -- Sepuluh pertama bulan Dzulhijjah --. Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?" Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak pula jihad di jalan Allah melainkan seseorang keluar dengan dirinya dan hartanya, kemudian tidak ada sedikit pun dari padanya yang kembali." Muttafaq 'Alaih
Jelas oleh kita, bahwa hari-hari di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini adalah hari-hari yang sangat dicintai oleh Allah 'Azza wa Jalla berupa amal-amal saleh yang kita kerjakan. Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini juga dilipatgandakannya pahala di setiap amal saleh yang dikerjakan. Kita sangat dianjurkan untuk benar-benar serius dan bersungguh-sungguh di dalamnya dengan memperbanyak ketaatan dan beribadah kepada Allah, memperbanyak dzikir kepada-Nya dengan Takbir (الله أكبر), Tahlil (لا إله إلا الله), Tahmid (الحمد لله), dan juga Tasbih (سبحان الله / سبحان الله و بحمده، سبحان الله العظيم), memperbanyak berpuasa sunnah termasuk berpuasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah di saat seluruh jama'ah haji di Makkah melaksanakan wukuf di Arafah yang menjadi puncak dari serangkaian Ibadah Haji, memperbanyak do'a, meningkatkan shalat-shalat sunnah baik shalat-shalat sunnah di dalam shalat rawatib maupun shalat-shalat sunnah di luar shalat rawatib, memperbanyak infak, dan memperbanyak amal-amal kebaikan lainnya khususnya selama sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah ini.
*Referensi:
Al-Qur'anul Karim dan Buku Ensiklopedi Muslim ~ Minhajul Muslim, hlm. 416.
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
~ Semoga Bermanfaat ~
Langganan:
Postingan (Atom)