Senin, 12 Desember 2016
Sabtu, 12 November 2016
UNTUKMU IBU
بسم الله الرحمن الرحيم
UNTUKMU IBU
Ditulis oleh: Manhajuddin Z.
Tulisanku untuk Ibu
Ibu... kau lah surga yang tergelar lembut bagiku.
Kepadamu, ku berbagi bahagia. Kepadamu juga, kuberbagi cerita.
Kepadamu, ku berbagi bahagia. Kepadamu juga, kuberbagi cerita.
Ibu, belaian lembut kasih sayangmu takkan tertandingi.
Dalam tiap do'amu, selalu kau sebut nama anakmu.
Dalam tiap do'amu, selalu kau sebut nama anakmu.
Ibu, kaulah pendamping setiaku, tatkala diri ini sendiri. Wajah
tulusmu, pertanda kasih cintamu untuk anak-anakmu. Keningmu, menandakan
kesungguhan perjuanganmu.
Ibu, kau selalu menyiapkan segala perlu anak-anakmu. Inginmu, melihat sukses anak-anakmu. Harapmu, selalu yang terbaik bagiku.
Ibu, kasih sayang dan pengorbananmu, tak akan pernah hilang dari
memoriku. Jerih payahmu, tak akan terganti oleh apa pun itu.
Keikhlasanmu, akan Allah balas dengan limpahan pahala untukmu.
Ibu, maafkan aku, bila kini, ku belum sepenuhnya membahagiakanmu.
Maafkan aku, bila belum sepenuhnya bisa banyak membantu. Maafkan aku,
bila terkadang diri ini terkalahkan oleh kemauan diri yang tak menjadi
harapmu.
Ibu', do'akan aku selalu, agar kelak cita-citaku juga
segala harapmu bisa terealisasi, agar dunia-akhirat sukses dalam
ridhamu, ridha Rabbku, juga Rabbmu, melalui untaian do'a-do'amu yang kau
panjatkan selalu.
Manhajuddin Zuhudi Al-Baataafy
12 November 2016
#Ibu
Sabtu, 05 November 2016
PERSATUAN UMAT ISLAM INDONESIA
بسم الله الرحمن الرحيم
PERSATUAN UMAT ISLAM INDONESIA
Ditulis oleh: Manhajuddin Z.
Sedikit Berbagi Cerita Seputar Aksi Bela Islam II di Jakarta...
Masjid Istiqlal pada hari Jum'at, 4 Shafar 1438 H / 4 November 2016 M
kemarin benar-benar tidak seperti biasanya. Umat Islam dari berbagai
penjuru daerah mulai berdatangan pada Jum'at dini hari kemudian
melanjutkan Shalat Fajr berjama'ah di Masjid. Pagi harinya bakda Shubuh,
Umat Islam semakin banyak berdatangan hingga menjelang Jum'atan,
jumlahnya pun semakin jauh lebih banyak,
ratusan, bahkan ribuan yang memenuhi halaman dan Masjid Istiqlal. Semua
sudut tempat wudhu dan kamar mandi pun terlihat telah banyak dipenuhi
antrian. Menjelang pelaksanaan shalat Jum'at, Umat Islam telah memenuhi
setiap lantai masjid, dari lantai utama hingga lantai paling atas juga
terisi penuh bahkan hingga sampai membuat shaf-shaf di halaman luar
masjid. Maasyaa Allaah. Benar-benar fenomena yang sangat jarang terjadi. Alhamdulillaah juga, setelah pagi harinya BMKG memprediksi DKI Jakarta pada hari Jum'at akan hujan, ternyata Allah berkehendak lain. Prediksi manusia terkalahkan oleh do'a-do'a dan harapan Umat Islam Indonesia yang sedang ada agenda penting pada hari itu.
Waktu pelaksanaan shalat
Jum'at pun semakin dekat. Diawali dengan beberapa informasi, himbauan,
dan maklumat penting oleh MC, disambung dengan suara beduk tanda telah
masuknya waktu Zhuhur / Jum'at. Mu'adzin bergegas mengumandangkan adzan
pertamanya hingga usai. Jama'ah Jum'at melaksanakan shalat sunnah
qabliyah hingga terdengan pembacaan ayat Al-Qur'an tentang anjuran
shalawat Nabi kemudian khotib berujar salam dan dikumandangkanlah adzan
kedua oleh Mu'adzin yang berbeda. Khotib Jum'at dipimpin oleh al-ustadz
Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Beliau menyampaikan ceramahnya
tentang "Keutamaan Syukur" yang menurut saya penyampaian ilmu dan
materinya bagus disertai istilah-istilah bahasa Arab dan tafsir
Al-Qur'an yang disampaikannya dengan seruan semangat. Dalam kurun waktu
kurang lebih sekitar 35 menit, khotib menyudahi ceramahnya di hadapan
ribuan Jama'ah yang memenuhi tiap lantai masjid Istiqlal.
Iqamah
kemudian dikumandangkan oleh Mu'adzin dan shalat Jum'at segera
didirikan. Imam yang memimpin shalat Jum'at di masjid Istiqlal
berdasarkan jadwal adalah al-ustadz al-haafizh Drs. H. Muhasyim Abdul
Majid, MA (beliau sepertinya sedang berhalangan hadir) sehingga
digantikan oleh al-ustadz al-haafizh H. Ahmad Husni Ismail, MA yang
memimpin pelaksanaan shalat Jum'at di masjid Istiqlal. Pada raka'at
pertama, imam melantunkan surah Al-Faatihah dan Al-A'laa dan di raka'at
kedua, imam melantunkan surah Al-Faatihah dan surah Al-Ghaasyiyah dengan
lantunan sangat merdu emosional menyentuh hati.
Seusai
dilaksanakannya shalat Jum'at, dilanjutkan dengan shalat Jama' taqdim
qashar 'Ashar dua raka'at bagi jama'ah musaafir. Bagi jama'ah muqiimiin
tetap duduk berdzikir dan berdo'a masing-masing. Setelah selesai shalat,
kemudian imam melanjutkan shalat ghaa'ib bersama jama'ah baru setelah
itu dilanjutkan dengan do'a bersama dan ada beberapa jama'ah yang
mendirikan shalat sunnah bakdiyah Jum'at.
Hari Jum'at, tepatnya pada tanggal 4 Shafar 1438 H / 4 November 2016 M
adalah menjadi hari yang sangat luar biasa bagi Umat Islam Indonesia.
Siang itu, seusai Jum'atan, Umat Islam yang berada di Masjid Istiqlal
mendapatkan 'briefing' dan beberapa himbauan penting sebelum aksi demo
digerakkan. Di antara himbauan yang saya dengar di antaranya himbauan
agar kita berdemo secara rapi dan tertib, mau mengikuti komando (dari
para tokoh Ulama'), kami dihimbau untuk tetap menunjukkan dan
membuktikan bahwa Islam dan kita sebagai Umat Islam adalah umat yang
cinta kebersihan, himbauan untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan dan
tidak merusak fasilitas umum, serta himbauan untuk tidak mudah
terprovokasi dengan keadaan selama demo.
Tidak lama setelah beberapa himbauan disampaikan, kemudian al-ustadz KH. Arifin Ilham menyampaikan yel-yel Islami kepada kami agar lebih kompak lagi dalam Aksi Bela Islam II. Berikut yel-yel yang sempat saya rekam dan dipimpin langsung oleh al-ustadz KH. Arifin Ilham adalah: "Aksi bela Islam, Aksi bela Islam, Aksi bela Islam, Allah Allahu Akbar!. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar! Al-Qur'an imam kami, Al-Qur'an pedoman kami, Al-Qur'an petunjuk kami, Al-Qur'an satukan kami. Aksi bela Islam, Allah Allahu Akbar!. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar! Al-Qur'an imam kami, Al-Qur'an pedoman kami, Al-Qur'an petunjuk kami, Al-Qur'an satukan kami. Aksi bela Islam, Allah Allahu Akbar!. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar!.
Komandan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MU (GNPF-MUI) adalah al-ustadz KH. Bachtiar Nasir. Beliau-lah yang memimpin jalannya gerakan ini. Setelah 'briefing' selesai. Umat Islam kemudian bersiap-siap untuk turun keluar masjid Istiqlal bersama-sama, beramai-ramai, ada juga yang memanfaatkan waktu antri turun tangga dengan makan siang terlebih dahulu, ada juga beberapa yang kumpul terlebih dahulu dengan rombongannya masing-masing di lantai utama masjid. Subhaanallaah ~
Hari tersebut benar-benar menjadi hari Jum'at yang sangat luar biasa dahsyat. Ulama'-ulama', Kiai-kiai, ustadz-ustadz, santri-santri, tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai penjuru daerah, dari berbagai Pondok Pesantren dan Majelis Ilmu, dari banyak luar kota dan bahkan dari luar pulau Jawa termasuk hadir di antaranya Wakil Ketua DPR, bapak Fadli Zon, dan hadir juga gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diiringi dengan seruan Takbir yang menggema masjid. Maasyaa Allaah ~
Siang itu, kami beramai-ramai secara tertib keluar masjid Istiqlal dan turun memenuhi ruas-ruas jalan raya di sekitar masjid menuju ke arah Istana Merdeka yang kebetulan lokasinya tidak begitu jauh dari Masjid Istiqlal. Di tengah-tengah aksi demo yang sedang berlangsung, Alhamdulillaah. Allah pertemukan saya dengan sahabat saya, teman satu Pondok Al Mukmin seangkatan, seperjuangan yang juga ikut berdemo bersama rombongan dari Magelang (Jawa Tengah); Qomaruz Zaman, suami dari Amalia Sabila Zaman yang juga teman satu angkatan di Pondok. Sebelumnya juga di dekat pintu keluar masjid Al-Fattaah, saya sempat menyapa dan ngobrol sebentar dengan alumni yang baru saja lulus dari Pondok, namanya Humam Fikri yang datang bersama temannya. Siang itu juga saya sempat melihat rombongan dari Papua yang banyak di antaranya kalangan ikhwan dan akhwatnya, ada juga rombongan dari Madura. Maasyaa Allaah ~ Begitu dahsyat dan luar biasanya Agenda persatuan Umat Islam pada hari itu (Jum'at, 4 Shafar 1438 H / 4 November 2016 M).
Sekitar jam 14:54 WIB, adzan 'Ashar dikumandangkan dan kami masih dalam suasana berdemo di jalan raya. sebagian besar jama'ah dari luar daerah (Musaafiriin) yang sudah menjamak shalatnya tetap melanjutkan demonya dan sebagian besar dari kami (Muqiimiin) berbalik arah bergegas ke Masjid Istiqlal lagi untuk mendirikan kewajiban kami yaitu shalat 'Ashar berjama'ah. Alhamdulillaah, seusai kami shalat 'Ashar, banyak yang berlama-lama dalam dzikir dan do'anya, banyak juga yang membaca Al-Qur'an, sebagian ada juga yang rehat dan tidur di dalam dan luar ruang masjid.
Waktu terus berjalan, sore pun mulai datang menghampiri kami. Kami harus bergegas lagi untuk turun ke jalan raya bersama-sama untuk melanjutkan aksi kami dalam membela Agama tercinta ini juga pembelaan kami terhadap Al-Qur'an tercinta kami. Bakda 'Ashar, kami beramai-ramai berjalan kaki menuju ke titik kumpul; istana merdeka yang berdekatan dengan Monumen Nasional (Monas). Di sanalah tempat sentral berkumpulnya Umat Islam, tempat orasi Ulama'-ulama', Kiai-kiai, Ustadz-ustadz, dan juga tokoh-tokoh masyarakat yang berada di atas panggung persis di depan istana merdeka dengan dijaga ketat oleh para petugas keamanan. Waktu semakin sore dan masih banyak rombongan Umat Islam yang terus berdatangan ke titik sentral di dekat istana. Gemuruh Takbir dan Shalawat mengiringi. Kalimat-kalimat "Adili", "Tangkap", "Turunkan" juga kerap kali terdengar. Suasanya sore itu Alhamdulillaah masih dalam kondisi tenang, tertib, aman, dan kondusif. Ketika jam menunjukkan sekitar jam 5 lewat hingga menjelang waktu Maghrib, banyak dari kami yang berjalan berbalik arah ke Masjid Istiqlal untuk persiapan mendirikan shalat Maghrib berjama'ah dan sebagian besar masih berada di titik kumpul di dekat istana dan sekalian mendirikan shalat Maghrib di jalan raya secara berjama'ah. ~ Allaahu Akbar!
Demikian yang dapat saya bagikan sedikit cerita Umat tercinta ini. Semoga bermanfaat dan ada hasilnya. Allaahumma Aamiin.
Tidak lama setelah beberapa himbauan disampaikan, kemudian al-ustadz KH. Arifin Ilham menyampaikan yel-yel Islami kepada kami agar lebih kompak lagi dalam Aksi Bela Islam II. Berikut yel-yel yang sempat saya rekam dan dipimpin langsung oleh al-ustadz KH. Arifin Ilham adalah: "Aksi bela Islam, Aksi bela Islam, Aksi bela Islam, Allah Allahu Akbar!. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar! Al-Qur'an imam kami, Al-Qur'an pedoman kami, Al-Qur'an petunjuk kami, Al-Qur'an satukan kami. Aksi bela Islam, Allah Allahu Akbar!. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar! Al-Qur'an imam kami, Al-Qur'an pedoman kami, Al-Qur'an petunjuk kami, Al-Qur'an satukan kami. Aksi bela Islam, Allah Allahu Akbar!. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar!.
Komandan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MU (GNPF-MUI) adalah al-ustadz KH. Bachtiar Nasir. Beliau-lah yang memimpin jalannya gerakan ini. Setelah 'briefing' selesai. Umat Islam kemudian bersiap-siap untuk turun keluar masjid Istiqlal bersama-sama, beramai-ramai, ada juga yang memanfaatkan waktu antri turun tangga dengan makan siang terlebih dahulu, ada juga beberapa yang kumpul terlebih dahulu dengan rombongannya masing-masing di lantai utama masjid. Subhaanallaah ~
Hari tersebut benar-benar menjadi hari Jum'at yang sangat luar biasa dahsyat. Ulama'-ulama', Kiai-kiai, ustadz-ustadz, santri-santri, tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai penjuru daerah, dari berbagai Pondok Pesantren dan Majelis Ilmu, dari banyak luar kota dan bahkan dari luar pulau Jawa termasuk hadir di antaranya Wakil Ketua DPR, bapak Fadli Zon, dan hadir juga gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diiringi dengan seruan Takbir yang menggema masjid. Maasyaa Allaah ~
Siang itu, kami beramai-ramai secara tertib keluar masjid Istiqlal dan turun memenuhi ruas-ruas jalan raya di sekitar masjid menuju ke arah Istana Merdeka yang kebetulan lokasinya tidak begitu jauh dari Masjid Istiqlal. Di tengah-tengah aksi demo yang sedang berlangsung, Alhamdulillaah. Allah pertemukan saya dengan sahabat saya, teman satu Pondok Al Mukmin seangkatan, seperjuangan yang juga ikut berdemo bersama rombongan dari Magelang (Jawa Tengah); Qomaruz Zaman, suami dari Amalia Sabila Zaman yang juga teman satu angkatan di Pondok. Sebelumnya juga di dekat pintu keluar masjid Al-Fattaah, saya sempat menyapa dan ngobrol sebentar dengan alumni yang baru saja lulus dari Pondok, namanya Humam Fikri yang datang bersama temannya. Siang itu juga saya sempat melihat rombongan dari Papua yang banyak di antaranya kalangan ikhwan dan akhwatnya, ada juga rombongan dari Madura. Maasyaa Allaah ~ Begitu dahsyat dan luar biasanya Agenda persatuan Umat Islam pada hari itu (Jum'at, 4 Shafar 1438 H / 4 November 2016 M).
Sekitar jam 14:54 WIB, adzan 'Ashar dikumandangkan dan kami masih dalam suasana berdemo di jalan raya. sebagian besar jama'ah dari luar daerah (Musaafiriin) yang sudah menjamak shalatnya tetap melanjutkan demonya dan sebagian besar dari kami (Muqiimiin) berbalik arah bergegas ke Masjid Istiqlal lagi untuk mendirikan kewajiban kami yaitu shalat 'Ashar berjama'ah. Alhamdulillaah, seusai kami shalat 'Ashar, banyak yang berlama-lama dalam dzikir dan do'anya, banyak juga yang membaca Al-Qur'an, sebagian ada juga yang rehat dan tidur di dalam dan luar ruang masjid.
Waktu terus berjalan, sore pun mulai datang menghampiri kami. Kami harus bergegas lagi untuk turun ke jalan raya bersama-sama untuk melanjutkan aksi kami dalam membela Agama tercinta ini juga pembelaan kami terhadap Al-Qur'an tercinta kami. Bakda 'Ashar, kami beramai-ramai berjalan kaki menuju ke titik kumpul; istana merdeka yang berdekatan dengan Monumen Nasional (Monas). Di sanalah tempat sentral berkumpulnya Umat Islam, tempat orasi Ulama'-ulama', Kiai-kiai, Ustadz-ustadz, dan juga tokoh-tokoh masyarakat yang berada di atas panggung persis di depan istana merdeka dengan dijaga ketat oleh para petugas keamanan. Waktu semakin sore dan masih banyak rombongan Umat Islam yang terus berdatangan ke titik sentral di dekat istana. Gemuruh Takbir dan Shalawat mengiringi. Kalimat-kalimat "Adili", "Tangkap", "Turunkan" juga kerap kali terdengar. Suasanya sore itu Alhamdulillaah masih dalam kondisi tenang, tertib, aman, dan kondusif. Ketika jam menunjukkan sekitar jam 5 lewat hingga menjelang waktu Maghrib, banyak dari kami yang berjalan berbalik arah ke Masjid Istiqlal untuk persiapan mendirikan shalat Maghrib berjama'ah dan sebagian besar masih berada di titik kumpul di dekat istana dan sekalian mendirikan shalat Maghrib di jalan raya secara berjama'ah. ~ Allaahu Akbar!
Demikian yang dapat saya bagikan sedikit cerita Umat tercinta ini. Semoga bermanfaat dan ada hasilnya. Allaahumma Aamiin.
*Ditulis di Jakarta, 5 Shafar 1438 H / 5 November 2016 M.
الحمد لله رب العالمين
Kamis, 13 Oktober 2016
AL-QUR'AN ~ TIDAK PERNAH TERBANTAHKAN.
بسم الله الرحمن الرحيم
AL-QUR'AN, TIDAK PERNAH TERBANTAHKAN.
Ditulis oleh: Manhajuddin Z.
Bila yang berbicara Al-Qur'an, maka sampai kapan pun tidak akan pernah ada yang bisa membantahnya, karena Al-Qur'an itu 'Kalaamullaah' (Perkataan, Lafazh, dan Firman Allah 'Azza wa Jalla).
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah berani membantah Allah dan perintah-Nya.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah kehilangan akal sehatnya.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah berada dalam kesesatan.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah menodai agama Islam.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah berlaku fasik bahkan kufur.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia dipertanyakan imannya.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka runtuhlah rukun imannya.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka Al-Qur'an tidak akan menjadi syafa'at baginya.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah mendustakan agama.
Sungguh, Al-Qur'an akan senantiasa terjaga keaslian dan kemurnian dzatnya hingga hari Kiamat. Sungguh, Al-Qur'an sampai kapan pun tidak akan pernah salah, tidak akan pernah musnah, tidak akan pernah terbantahkan oleh siapa pun, sampai akhir kehidupan pun.
Jakarta, 13 Muharram 1438 H
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah kehilangan akal sehatnya.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah berada dalam kesesatan.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah menodai agama Islam.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah berlaku fasik bahkan kufur.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia dipertanyakan imannya.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka runtuhlah rukun imannya.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka Al-Qur'an tidak akan menjadi syafa'at baginya.
Bila berani membantah Al-Qur'an, maka dia telah mendustakan agama.
Sungguh, Al-Qur'an akan senantiasa terjaga keaslian dan kemurnian dzatnya hingga hari Kiamat. Sungguh, Al-Qur'an sampai kapan pun tidak akan pernah salah, tidak akan pernah musnah, tidak akan pernah terbantahkan oleh siapa pun, sampai akhir kehidupan pun.
Jakarta, 13 Muharram 1438 H
~ Semoga Bermanfaat ~
Minggu, 02 Oktober 2016
TAHUN BARU HIJRIAH; MOMENTUM TEPAT PERUBAHAN TOTALITAS
بسم الله الرحمن الرحيم
TAHUN BARU HIJRIAH; MOMENTUM TEPAT PERUBAHAN TOTALITAS
*Ditulis oleh: Manhajuddin Z.
✍ Awalnya, saya terinspirasi membuat tulisan ini yang masih di momen tahun baru Islam 1438 Hijriah ini.
Baru saja, kita memasuki tahun baru kita sendiri sebagai umat terbaik;
Umat Islam yang tentu harus bangga dan bersyukur atas nikmat Iman dan
Islam ini. Bersyukur atas nikmat umur panjang yang Allah anugerahkan
pada diri ini. Alhamdulillaah.
'Hijrah', ini mungkin kata yang tepat untuk momentum saat ini. Inilah saatnya kita bertekad melakukan perubahan besar-besaran dalam berbagai aspek kehidupan kita. Ya, di sini saya beri istilah 'Perubahan Totalitas'. Perubahan totalitas di tengah kita memasuki Tahun Baru Islam ini sebenarnya ada sangat banyak hal, namun saya akan uraikan secara sederhana saja.
Perubahan totalitas itu bisa berupa sebagai berikut:
√ Mengubah perilaku dari tidak baik menjadi baik.
√ Mengubah pikiran dari tidak baik menjadi baik.
√ Mengubah perkataan dari tidak baik menjadi baik.
√ Mengubah diri menjadi pribadi yang lebih taat.
√ Mengubah sikap dari arogan menjadi tawadhu' (rendah hati).
√ Mengubah kebiasaan dari jarang-jarang shalat berjama'ah 5 waktu menjadi sering dan lebih istiqomah untuk selalu menjaga shalat 5 waktu berjama'ah.
√ Mengubah kebiasaan dari jarang shalat dhuha menjadi sering shalat dhuha.
√ Mengubah kebiasaan dari jarang shalat tahajjud menjadi sering shalat tahajjud.
√ Mengubah kebiasaan dari malas membaca menjadi gemar dan cinta membaca.
√ Mengubah kebiasaan dari kurang membaca Al-Qur'an menjadi kebiasaan sering membaca Al-Qur'an.
√ Mengubah kebiasaan dari kurang menghafal Al-Qur'an menjadi sering dan gemar menghafal Al-Qur'an.
√ Mengubah prasangka dari tidak baik menjadi prasangka baik.
√ Mengubah kebiasaan dari jarang bersedekah menjadi gemar bersedekah.
√ Mengubah kebiasaan dari kurang berdzikir menjadi lebih banyak berdzikir.
√ Mengubah kebiasaan dari boros menjadi rajin menabung.
√ Mengubah kebiasaan dari meminta menjadi memberi.
√ Mengubah pola makan dari kurang sehat menjadi pola lebih sehat.
√ Mengubah kebiasaan dari jarang olahraga menjadi gemar olahraga.
√ Mengubah kebiasaan dari membuang waktu menjadi lebih memanfaatkan waktu.
√ Dan masih banyak hal lagi yang bisa diperbaiki untuk menjadikan diri ini semakin berkualitas dan bermanfaat. Selamat Tahun Baru Islam 1438 Hijriah.
Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi pemicu semangat bagi diri saya dan juga antum semua untuk berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Allaahumma Aamiin.
'Hijrah', ini mungkin kata yang tepat untuk momentum saat ini. Inilah saatnya kita bertekad melakukan perubahan besar-besaran dalam berbagai aspek kehidupan kita. Ya, di sini saya beri istilah 'Perubahan Totalitas'. Perubahan totalitas di tengah kita memasuki Tahun Baru Islam ini sebenarnya ada sangat banyak hal, namun saya akan uraikan secara sederhana saja.
Perubahan totalitas itu bisa berupa sebagai berikut:
√ Mengubah perilaku dari tidak baik menjadi baik.
√ Mengubah pikiran dari tidak baik menjadi baik.
√ Mengubah perkataan dari tidak baik menjadi baik.
√ Mengubah diri menjadi pribadi yang lebih taat.
√ Mengubah sikap dari arogan menjadi tawadhu' (rendah hati).
√ Mengubah kebiasaan dari jarang-jarang shalat berjama'ah 5 waktu menjadi sering dan lebih istiqomah untuk selalu menjaga shalat 5 waktu berjama'ah.
√ Mengubah kebiasaan dari jarang shalat dhuha menjadi sering shalat dhuha.
√ Mengubah kebiasaan dari jarang shalat tahajjud menjadi sering shalat tahajjud.
√ Mengubah kebiasaan dari malas membaca menjadi gemar dan cinta membaca.
√ Mengubah kebiasaan dari kurang membaca Al-Qur'an menjadi kebiasaan sering membaca Al-Qur'an.
√ Mengubah kebiasaan dari kurang menghafal Al-Qur'an menjadi sering dan gemar menghafal Al-Qur'an.
√ Mengubah prasangka dari tidak baik menjadi prasangka baik.
√ Mengubah kebiasaan dari jarang bersedekah menjadi gemar bersedekah.
√ Mengubah kebiasaan dari kurang berdzikir menjadi lebih banyak berdzikir.
√ Mengubah kebiasaan dari boros menjadi rajin menabung.
√ Mengubah kebiasaan dari meminta menjadi memberi.
√ Mengubah pola makan dari kurang sehat menjadi pola lebih sehat.
√ Mengubah kebiasaan dari jarang olahraga menjadi gemar olahraga.
√ Mengubah kebiasaan dari membuang waktu menjadi lebih memanfaatkan waktu.
√ Dan masih banyak hal lagi yang bisa diperbaiki untuk menjadikan diri ini semakin berkualitas dan bermanfaat. Selamat Tahun Baru Islam 1438 Hijriah.
Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi pemicu semangat bagi diri saya dan juga antum semua untuk berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Allaahumma Aamiin.
الحمد لله رب العالمين
~ Semoga Bermanfaat ~
Ditulis di Jakarta, Ahad, Awal Muharram 1438 Hijriah / 2 Oktober 2016 M
Minggu, 18 September 2016
TUJUH GOLONGAN YANG MENDAPATKAN NAUNGAN ALLAH
بسم الله الرحمن الرحيم
TUJUH GOLONGAN YANG MENDAPATKAN NAUNGAN ALLAH
Diringkas oleh: Manhajuddin Z.
Ahad, 17 Dzulhijjah 1437 H / 18 September 2016 M
Assalamu'alaikum para pembaca yang budiman. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan dan ridho Allah 'Azza wa Jalla. Allaahumma Aamiin. Kesempatan yang baik ini, saya terinspirasi untuk menyampaikan satu pembahasan intisari dari hadis sahih tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari Kiamat kelak yang berhasil saya ringkas poin-poin pokoknya. Berikut hadisnya dan selanjutnya saya uraikan beberapa ringkasan tiap poinnya:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ. رَوَاهُ الْبُخَارِي وَ مُسْلِمْ
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; Imam (Pemimpin / Penguasa) yang adil, pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya tertaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku takut kepada Allah.", seseorang yang bersedekah dengan sedekahnya lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam suasana sepi hingga menetes air matanya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim
Dari satu hadis yang telah saya sampaikan di atas, maka berikut ini saya uraikan ringkasan poin-poin penting intisari hadis tersebut:
1. Imam (Pemimpin) yang adil.
2. Pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.
3. Seseorang yang hatinya selalu cinta dan terikat dengan Masjid.
4. Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah. Keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya demi menggapai ridho dari Allah.
5. Laki-laki yang takut kepada Allah dari melakukan perbuatan zina.
6. Seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan tangan kanannya. Dan
7. Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam suasana sepi hingga menetes air matanya.
Rabu, 17 Agustus 2016
HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
بسم الله الرحمن الرحيم
HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
17 AGUSTUS
Oleh: Manhajuddin Z.
Alhamdulillaah. Segala puji hanya milik Allah 'Azza wa Jalla Yang telah menciptakan bumi dan langit beserta segala isinya, Yang telah menciptakan manusia dari diri yang satu yaitu Nabi Adam 'Alaihis Salam, Yang telah mengatur dan menentukan segala hal yang ada di dalam kehidupan ini, dan tentu kita sebagai Warga Negara Indonesia (Bangsa Indonesia) wajib bersyukur atas kenikmatan dan anugerah yang sangat besar yang telah dikaruniakan Allah kepada kita berupa merdekanya bangsa dan negara republik ini dari tangan-tangan para penjajah pada masa lalu.
Pada tulisan saya kali ini, saya tidak akan membahas banyak tentang kronologis atau sejarah bangsa ini hingga meraih kemerdekaan, tetapi melalui tulisan ini, saya sangat ini mendapatkan momentum membuat satu tulisan bertepatan pada momen spesial tanggal 17 Agustus ini dan juga melalui tulisan ini saya ingin mencurahkan sedikit inspirasi yang terbenak dalam pikiran saya berkaitan dengan kemerdekaan itu sendiri.
Kemerdekaan yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia ini sudah pasti yang pertama melalui izin, kehendak, dan rahmat dari Allah 'Azza wa Jalla. Kedua, kemerdekaan ini jugalah sebagai suatu bentuk upaya dan kesungguhan generasi bangsa Indonesia terdahulu yang telah berjuang dan berjihad di jalan-Nya demi tegaknya kedaulatan dan kemerdekaan bangsa ini yang sudah semestinya menjadi hak milik segenap bangsa tercinta ini.
Kita, sebagai generasi yang tumbuh berkembang beberapa dekade setelah momen manis kemerdekaan negeri ini beberapa puluh tahun lalu, patut berterima kasih kepada para pejuang yang masih hidup di dunia ini meskipun tidak secara langsung kita bertemu dengan para tokoh pejuang (veteran) nasional, setidaknya perwujudan rasa terima kasih kita bisa diimplementasikan dalam wujud do'a-do'a yang bisa kita lantunkan untuk mereka atau mungkin kita bisa memberi bantuan materi bila kita menemui mereka. Kita juga tidak lupa menyisipkan do'a untuk mereka yang telah gugur (InsyaAllah syahid) semoga Allah terima segala amal baik dan perjuangan mereka untuk bangsa ini, dan semoga Allah ampuni juga segala bentuk kesalahan yang mereka perbuat semasa hidupnya.
الحمد لله رب العالمين
~Semoga Bermanfaat ~
Jakarta, 17 Agustus 2016
Langganan:
Postingan (Atom)