Minggu, 20 Juli 2014
Minggu, 13 Juli 2014
URGENSI IMAN dan TAQWA kepada ALLAH TA'ALA
بسم الله الرحمن الرحيم
أَهَمِّيَّةُ الإِيْمَان وَ التَّقْوَى إِلَى اللهِ تَعَالَى
URGENSI IMAN dan TAQWA kepada ALLAH TA'ALA
Ditulis oleh: Manhajuddin Zuhudi
إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور أنفسنا و من سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، و من يضلله فلا هادي له. أما بعد
Pertama-tama dan yang paling utama marilah kita bersyukur kepada Allah 'Azza wa Jalla, karena Dialah yang mengkaruniai kita Nikmat Kesehatan dan Nikmat Umur Panjang. Alhamdulillaah. Kedua, tak lupa kita curahkan Shalawat serta Salam kita kepada baginda tercinta kita Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam yang Mulia, karena beliaulah Ajaran Islam dapat kita rasakan hingga pada zaman kita saat ini. Ketiga, kita juga harus senantiasa bersyukur atas nikmat Islam yang sudah sejak kita lahir di bumi ini kita telah beragama Islam. Sungguh beruntunglah kita. Sebagaimana Firman Allah 'Azza wa Jalla di dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran Ayat ke-19 yang artinya: "Sesungguhnya Agama di sisi Allah ialah Islam." [QS. Ali Imran: 19]
Membaca kutipan ayat suci Al-Qur'an tersebut di atas maka sudah sangat jelas bagi kita bahwa agama yang paling benar dan diakui oleh Allah hanyalah Agama Islam yang sudah sangat jelas dan mutlak kebenarannya. Islam Rahmatan lil 'Aalamiin.
Pada kesempatan yang baik ini, saya akan membahas tentang hal-hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim di dunia ini yaitu tentang "Urgensi Iman dan Takwa kepada Allah Ta'ala".
Pertama, tentang Iman kepada Allah Ta'ala
Secara bahasa, Iman itu dapat diartikan dengan 'percaya' الإيمان bahkan pada hakikatnya definisi dari Iman itu sendiri adalah Keyakinan, lebih dari sekadar percaya. Secara istilah Iman adalah keyakinan kuat yang tidak dicampuri dengan keraguan dan disertai dengan perbuatan yang membuktikan keyakinan itu. Sebagaimana dijelaskan di dalam buku Al Iman karya Syaikh Abdul Majid Az Zindani. Defiisi di atas menunjukkan adanya cakupan dua aspek yang dimiliki oleh Iman yaitu keyakinan dan perbuatan. Perlu kita ketahui bahwa selain ilmu, iman juga menjadi faktor penentu diterimanya amalan seorang hamba.
Iman itu harus dicari dan tidak dapat diwarisi oleh siapa pun. Iman itu bersifat fluktuatif, kadang bertambah dan kadang juga berkurang dalam hati seseorang. Iman itu bertambah dengan diri kita senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla dan iman itu dapat berkurang apabila diri kita melakukan kemaksiatan. Dalam hal agar Iman dapat bertambah, Allah telah memberi Tips bagi kita dalam Al-Qur'an surah Al-Anfal Ayat ke-2 yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka apabila disebut Nama Allah (Sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakan-Nya) gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan kepada Tuhan (Allah) mereka bertawakal." [QS. Al-Anfal: 2]
Kedua, tentang Taqwa kepada Allah Ta'ala
Taqwa dalam bahasa Arab berasal dari kata وَقَى - يَقِيْ - وِقايَةً yang memiliki arti 'Memelihara'. Jadi, Taqwa itu secara sederhana dalam bahasa Arab berarti memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala Perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jadi, taqwa tidak sekadar Takut. Istilah lain dari Taqwa adalah Ridha yang memiliki arti menerima dengan rela dan senang hati tanpa beban hukum-hukum dan ketentuan Allah. Ilustrasi dari Taqwa itu sendiri pernah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam seperti seseorang yang berjalan di suatu jalan dan di jalan yang dilalui orang itu banyak terdapat duri, maka dipastikan orang itu akan sangat berhati-hati saat melewati jalan tersebut. Itulah Taqwa.
Firman Allah 'Azza wa Jalla di dalam Al-Qur'an Al-Karim Surah Ali Imran Ayat yang ke- 102 yang Artinya: "Wahai orang-orang yang Beriman! Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." [QS. Ali Imran: 102]
Iman dan Taqwa itu pada hakikatnya keduanya memiliki korelasi atau hubungan yang sangat terikat dan dekat. Hal itu dikarenakan kondisi keimanan seseorang yang baik dan berkualitas sudah akan tentu lambat laun akan melahirkan sifat, sikap, dan perilaku Taqwa dalam hati seseorang.
Wallaahu A'lam bi al-Shawaab.
الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
~Semoga Bermanfaat~
آمين يـــــــالله
Minggu, 08 Juni 2014
Do'a Sujud Tilawah
بسم الله الرحمن الرحيم
Do'a Sujud Tilawah
Sujud Tilawah adalah suatu anjuran kepada setiap mukmin yang membaca Al-Qur'an dan mendapati tanda seperti pintu Masjid atau seperti Sajadah, maka kita dianjurkan untuk bersujud kepada Allah dan membaca do'a sujud tilawah berikut..
بسم الله الرحمن الرحيم
سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ، وَ شَقَّ سَمْعَهُ وَ بَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَ قُوَّتِهِ، ( فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ) الدُّعَاءُ
Artinya:
"Bersujud wajahku kepada Dzat yang Menciptakannya, yang membelah pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatanNya, Maha Berkah Allah Sebaik-baik Pencipta." ~Do'a~
[H.R. Tirmidzi 2/474. Ahmad 6/30, dan Al-Hakim. Menurut Al-Hakim, hadis tersebut Sahih. Imam Dzahabi menyetujui pendapatnya 1/220 sedang tambahannya "Fatabarakallaahu" menurut riwayat Dzahabi sendiri.
*Referensi Utama:
كتاب حصن المسلم. من أذكار الكتاب و السنة
Said bin Ali bin Wahf Al-Qohthoni. hlm. 73-74.
الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
~Semoga Bermanfaat~
آمين يـالله
Minggu, 01 Juni 2014
Kepribadian Islami
بسم الله الرحمن الرحيم
الشَّخْشِيّةُ الْإِسْلاَمِيَّةُ
Kepribadian Islami
Oleh: Manhajuddin Zuhudi
Pada kesempatan yang Baik ini, Alhamdulillaah. Saya terinspirasi untuk menyampaikan tulisan tentang Kepribadian Islami yang sangat diharapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tentunya juga oleh Agama Islam sendiri. Saya sangat terinspirasi dan sangat setuju dengan perumusan yang disampaikan oleh Syaikh Hasan Al-Banna rahimahullah. Beliau membuat perumusan tentang karakteristik kepribadian yang Islami yang berjumlah 10 Aspek yang harus dipenuhi setiap mukmin untuk menggapainya. Berikut 10 Aspek itu....
الأوّل: سَلِيْمُ الْعَقِيْدَةِ
الثّاني: صَحِيْحُ الْعِبَادَةِ
الثّالث: مَتِيْنُ الْخُلُقِ
الرّابع: قَوِيُّ الْجِسْمِ
الخامس: مُثَقَّفُ الْفِكْرِ
السّادس: مُجَاهِدٌ لِنَفْسِهِ
السّابع: حَارِسٌ عَلَى وَقْتِهِ
الثّامن: مُنَظَّمٌ فِيْ شُؤُوْنِهِ
التّاسع: قَادِرٌ عَلَى الْكَسْبِ
العاشر: نَافِعٌ عَلَى غَيْرِهِ
[1] Akidah yang Benar
[2] Ibadah yang Benar
[3] Akhlak yang Kokoh
[4] Fisik yang Kuat
[5] Intelek [Cerdas] dalam Berpikir
[6] Berjuang dalam Melawan hawa nafsu
[7] Pandai Menjaga Waktu
[8] Teratur dalam Segala Urusan
[9] Memiliki Kapabilitas dalam Berupaya atau Bekerja
[10] Bermanfaat untuk Orang Lain.
~Semoga Bermanfaat~
آمين يـَالله
الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Minggu, 25 Mei 2014
Hakikat Sukses [Bagian II]
بسم الله الرحمن الرحيم
Hakikat Sukses [Bagian II]
Oleh: Manhajuddin Zuhudi
Berikut saya sajikan secara ringkas dan sederhana tentang hakikat sukses:
[1] Orang yang sukses akan selalu membiasakan diri untuk giat berolahraga dan menjaga kebersihan diri dan lingkungannya, karena orang yang sukses adalah orang yang kuat dan sehat.
[2] Orang yang sukses memiliki rasa optimis yang tinggi, mampu memperbaiki kesalahannya, mampu keluar dari tekanan dan masalahnya, serta mampu mengubah kerugian menjadi keberuntungan.
[3] Orang yang sukses harus memiliki kekuatan dalam mempelajari ilmu, selalu berkonsentrasi, dan menghargai waktu.
[4] Orang yang sukses memiliki cita~cita setinggi bintang dan memiliki tekad yang sangat kuat untuk meraih berbagai kesuksesan hidup dan cita~citanya.
[5] Orang yang sukses akan senantiasa mengamalkan ilmunya dan menuliskannya.
[6] Orang yang sukses adalah orang yang memiliki profesionalitas yang baik dalam bekerja.
[7] Orang yang sukses adalah orang yang menjauhkan dirinya dari sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
[8] Orang yang sukses adalah orang yang tidak akan pernah berhenti melangkah untuk terus maju dan lebih baik.
[9] Orang yang sukses adalah orang yang tetap konsisten dengan kebaikan~kebaikannya meskipun berada di lingkungan yang tidak baik.
[10] Orang yang sukses adalah orang yang senantiasa mencari keridhaan dari ALLAH Ta'ala dan Kedua Orangtuanya.
*Terinspirasi dari buku "Kunci Sukses" yang ditulis oleh Syaikh Dr. 'Aidh Abdullah Al-Qarni dengan berbagai perubahan sederhana dari penulis.
~Semoga Bermanfaat~
آمين يـالله
الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Senin, 19 Mei 2014
Beberapa Terjemahan Ayat~ayat Al-Qur'an tentang Keutamaan Dzikir
بسم الله الرحمن الرحيم
Beberapa Terjemahan Ayat~ayat Al-Qur'an tentang Keutamaan Dzikir
[1] QS. Al-Baqarah: 152
Firman Allah: "Karena itu, Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan Rahmat dan Ampunan), dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar (pada nikmat-Ku)".
[2] QS. Al-Ahzab: 35
Firman Allah: "Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung."
[3] QS. Al-Ahzab: 42
Firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut nama-Nya)."
[4] QS. Al-A'raf: 205
Firman Allah: "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaan-Nya), tidak mengeraskan suara di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai."
*Referensi:
Buku Kumpulan Do'a dalam Al-Qur'an dan Hadis, Said bin Ali Wahf Al-Qohthoni.
الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
~Semoga Bermanfaat~
آمين يـَالله
Minggu, 20 April 2014
Tentang Niat
بسم الله الرحمن الرحيم
Tentang Niat
Niat bukan sekadar mengucapkan saya berniat (nawaytu). Lebih daripada itu, niat adalah dorongan hati seiring dengan pembukaan dari Allah 'Azza wa Jalla. Kadang-kadang niat itu mudah dicapai, kadang-kadang juga sulit. Seseorang yang hatinya selalu dipenuhi dengan urusan-urusan Agama (Din), maka dia akan mudah untuk menghadirkan niat untuk berbuat kebaikan. Apabila hati telah condong kepada pangkal kebaikan, maka ia pun akan terdorong untuk cabang-cabang kebaikan.
Sebaliknya, jika seseorang hatinya dipenuhi dengan kecenderungan kepada gemerlap dunia hingga terlalaikan untuk hal-hal yang berkaitan dengan Agama, maka ia akan mendapati kesulitan untuk menghadirkan niatan dari dalam hatinya.
Umar bin Khattab radhiyallaahu 'anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ. وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ. الْحَدِيْثُ رَوَاهُ البُخَارِيْ
"Sesungguhnya amal-amal itu tergantung kepada niatnya. Seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Seseorang yang niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya pun kepada Allah dan Rasul-Nya. Seseorang yang hijrahnya kepada dunia yang diinginkannya atau wanita yang akan dinikahinya, hijrahnya pun untuk apa yang dia niatkan." [HR. Al-Bukhari].
Semoga kita Senantiasa mudah untuk selalu menghadirkan niatan-niatan baik dari dalam hati kita di setiap hendak melaksanakan amal-amal yang baik termasuk untuk beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Aamiin Yaa ALLAH.
~Semoga Selalu Bermanfaat~
آمين يَـالله
الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
*Sumber Bacaan:
Buku 'Tazkiyatun Nafs', Konsep Penyucian Jiwa Menurut Ulama Salafushshalih oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dan Imam Al-Ghazali.
Langganan:
Postingan (Atom)